V I S I T U T A M A

VISIT.CO.ID–KEJADIAN memilukan hati di Suku Tanjung, Nagari Manggopoh Kecamatan Lubuk Basung, Kabupaten Agam Provinsi Sumatera Barat meletus pada tanggal 6 September 2017 lalu. Pada hari tersebut, sekelompok orang pada pukul 04.00 WIB mendatangi lokasi perkebunan sawit yang dikelola oleh Ninik Mamak (Penghulu Adat) Suku Tanjung dan Pesantren Nurul Yakin dibawah payung Yayasan Tanjung Manggopoh (YTM).

Diperkirakan puluhan hingga ratusan orang yang mendatangi lokasi YTM tersebut, menurut informasi yang diperoleh bahwa akan melakukan orasi dan/ atau demonstrasi terhadap YTM, namun dilakukan pada dini hari?.

Bahwa, kejadian yang persis sama juga pernah terjadi pada tahun 2016, tepatnya tanggal 29 Februari 2016, dengan waktu yang hampir sama yang Pukul 04.30 WIB.

Apabila merujuk kepada keadaan yang lumrah dan aturan demonstrasi pada umumnya, biasanya aksi/ demonstrasi/ menyampaikan pendapat dimuka umum hanya dilakukan dan/ atau diperbolehkan pada pukul 07.00/ 08.00 – 19.00 WIB. Sepertinya dua kejadian demonstrasi di lokasi YTM ini, masing – masingnya 29 Februari 2016 dan 6 September 2017, tidak begitu adanya.

Pada tahun 2016 itu, massa yang katanya melakukan orasi tersebut melakukan pen-dudukan/ menguasai areal perkantoran dan perkebunan sawit milik YTM, hingga dua bulan lebih lamanya, sekaligus melakukan panen sepihak, yang disinyalir tanpa hak dan melawan hukum. Kemudian, pada tahun 2017 ini aksi yang sama kembali mereka lakukan, alasan orasi dan demonstrasi, kemudian kembali melakukan pen-dudukan/ menguasai areal perkebunan.

Fakta – Fakta Aneh 6 September 2017
1. Selain datang dini hari, kedatangan massa tersebut dikawal ketat oleh Personil POLRES AGAM, dengan menggunakan : satu unit truck Water Cannon, satu unit mobil Dalmas dan dua unit mobil patroli. Massa yang datang, menurut informasi yang dihimpun menggunakan: 3 bus merk Alisma (satu bus diperkirakan mencapai 40 orang), 15 unit kendaraan mini bus.

REKOMENDASI:  Presiden: Jangan Main-Main Dengan Sertifikat Tanah

Disini YTM menilai, selain waktu/ jam aksi yang tidak normal (dini hari), mengapa seolah – olah kelompok tersebut dikawal dan dibiarkan masuk ke lokasi perkebunan kemudian terjadi pembiaran oleh Kepolisian. Diperparah lagi massa mengobrak – abrik kantor YTM hingga pada hari berikutnya sampai saat ini kelompok tersebut melakukan panen sepihak dan panen paksa, sama dengan tahun 2016 sebelumnya.

2. Selain pen-dudukan, sekelompok orang tersebut kemudian mengejar para pekerja YTM dan security yang sedang melakukan pekerjaan memanen dan panen tersebut mereka rebut. Ada pula yang sampai dibawa oleh pihak kepolisian dan ditahan hingga saat ini, salah satu diantaranya Security YTM bernama Rudi Islami. Security tersebut hanya melakukan tugasnya mengamankan lokasi YTM dan awalnya ingin mengamankan kelompok massa tersebut agar jangan melakukan aksi sepihak dengan mengambil sawit di areal YTM. Kemudian, security melaporkan kejadian tersebut kepada Polres Agam dengan laporan pencurian, namun tidak lama setelah itu security tersebut ditahan dengan tuduhan pemukulan, aneh? Melapor dan mencari keadilan, tetapi ditahan.

3. Sejak tanggal 6 September 2017 tersebut, sekelompok orang tersebut menguasai lahan dan areal perkantoran YTM dan diperparah lagi juga adanya indikasi turut sertanya salah satu ormas (organisasi masyarakat). Maka, bisa dipastikan bahwa pada hari tersebut sebenarnya bukan niat orasi/ aksi tetapi adalah niat pen-dudukan, untuk menguasai sesuai selera mereka dengan berbagai alasan yang rasanya tidak sesuai dengan norma apapun di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan Pancasila.

Hasil panen sepihak yang dilakukan sekelompok orang tersebut, menurut kabar yang beredar, disimpan di Koperasi Unit Desa (KUD) yang baru – baru ini mereka bentuk.

BACA:
Landasan dan Dasar Hukum Pengelolaan Kebun oleh YTM

STOP BACA BERITA SAAT ADZAN BERKUMANDANG

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here