Santri Milenial Pelopor Kebangkitan Indonesia

0
114 views

Oleh:A. Maulana Malik Abdullah
Bendahara Umum HmI Cabang Surabaya

VISIT.CO.ID–
Terlepas dari polemik seputar hari santri nasional. Peran santri dalam kemajuan dan pembangunan tidak bisa dipungkiri. Pemerintah melalui keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2015 Tentang hari Santri (Kepres RI no. 22 Tahun 2015) yang ditetapkan tanggal 15 Oktober 2015 jadi awal Hari Santri Nasional.

Sejarah mencatat hubungan santri pemerintah memang panas-dingin. Kita tentu masih ingat saat ribuan santri memadati Monas pada 212. Meski terkesan berakhir anti klimaks namun aksi 212 tersebut bisa dikatakan terbesar setelah aksi 98. Ditarik mundur ke belakang, Soekarno juga sempat mesra dengan kalangan santri.

Tepat saat agresi sekutu ingin merebut kembali Indonesia ke tangan Belanda. Dari sana lahirlah fatwa resolusi jihad 22 Oktober 1945 -yang kemudian dijadikan awal pijakan hari santri nasional.

Tidak hanya itu pada momen kemerdekaan. Awal kemerdekaan santri juga mengambil peran penuh dalam menjaga persatuan bangsa. Tepatnya tahun 1948, saat kondisi negara sedang gaduh. Kondisi elit politik yang saling curiga, keegoisan tidak duduk satu meja dan partai-partai politik mengklaim diri sebagai paling benar.

Presiden RI Soekarno yang gelisah atas saran KH. Abdul Wahab Hasbullah menggelar forum silaturahmi akbar. Atas saran beliu, pada saat Hari Raya Idul Fitri tiba, Bung Karno mengundang semua tokoh politik yang bertikai untuk datang ke Istana Negara dalam rangka Halalbihalal.

Dari situlah, akhirnya tokoh tokoh partai duduk bersama. Babak baru untuk menyusun kekuatan dan persatuan bangsa pun dimulai. Semua elit politik tak menyadari jika istilah itu merupakan bentuk rekonsiliasi politik dengan saling memaafkan.

Melihat kondisi hari ini setidaknya santri hari ini punya tantangan baru. Setidaknya 3 hal, Pertama menjadi pelopor pembangunan ekonomi, Kedua pelopor perubahan, Ketiga pelopor pengetahuan.
Santri dalam pembangunan ekonomi.

REKOMENDASI:  Peliputan Wapres JK di Tanwir-1 Aisiyah Surabaya Dibatasi

Menurut Oxfam, lembaga nirlaba asal Inggris yang didirikan sejak 1942 di Oxford, Inggris. Indonesia termasuk peringkat ke enam di dunia dalam kesenjangan antara kaya-miskin. Oxfam menuding “fundamentalisme pasar” adalah biang keladi dari terjadinya kesenjangan yang makin melebar ini.

Dalam dua dekade terakhir, fundamentalisme pasar telah memungkinkan orang-orang terkaya menyerap keuntungan sangat besar dari pertumbuhan ekonomi yang kuat selama ini.
Kesenjangan antar kaya dan miskin memang mengkhawatirkan.

Bahkan tercatat harta 4 orang terkaya di Indonesia sama dengan harta kekayaan 100 juta orang miskin. Kesenjangan memang menjadi pekerjaan yang belum usai. Maka tugas santri hari ini adalah bagaimana mengembangkan potensi ekonomi. Pijakan awal adalah bagaimana ekonomi syariah yang sedang bergairah hari ini sesuai dengan kaidah syariah yang murni. Bukan label syariah tapi secara inti sistem masih memakai ekonomi konvensional.

Kemampuan santri dalam melihat potensi lokal harus diasah. Misalnya adalah dana zakat atau Infaq masjid yang selama ini menjadi dana mati. Santri harus berani tampil out of the box dalam melihat potensi dan tantangan. Oleh sebab itu santri hari ini harus berani terbuka terhadap hal baru tanpa meninggalkan akar karakter Islam.

Santri sebagai pelopor perubahan,
Perubahan yang begitu cepat dan bertebarannya ketidakpastian buatan di Jagad media sosial. Menjadikan masyarakat mudah terpengaruh dan berpikir paling benar.

Banyaknya Hoax membuat masyarakat kita terbelah. Tentu kita masih ingat kasus pilkada DKI Jakarta yang membuat masyarakat kita terbelah menjadi dua pihak. Kaum toleran vs intoleran, dan kaum Bhineka tunggal ika dan non Bhineka tunggal ika.

Polarisasi dua kutub menjadikan masyarakat saling bermusuhan. Apapun yang diujarkan dari kubu yang berseberangan salah. Ini yang mencederai kemajemukan kita.

REKOMENDASI:  Gebyar Maulid Ponpes Assyafiiyah Bersama Wali Band

Setiap manusia pasti mengandung kebenaran. Namun jangan sampai kefanatikan akan kebenaran sendiri membuat kita seperti katak dalam tempurung.

Tugas santri dalam soal wacana dan informasi adalah bagaimana mencerdaskan masyarakat. Mencerdaskan dalam hal ini adalah bagaimana masyarakat diajarkan untuk berpikir seimbang. Tidak gampang tergerus informasi sepihak. Dan selalu berpikir bahwa setiap manusia selalu punya nilai kebenaran.

Santri sebagai pelopor ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) Santri agar dapat menjawab berbagai fenomena masalah yang terjadi di masyarakat saat ini seperti pemberdayaan masyarakat, dan pengentasan kemiskinan juga radikalisasi dan terorisme serta upaya-upaya merongrong dan melemahkan kokoh dan utuhnya NKRI santri Melenial harus menjadi garda terdepan dalam hal ini,

karena tantangan saat ini suatu kenyataan yang terjadi dihadapan kita sebagai Santri Milenial tentang berbagai penangkapan yang dilakukan oleh aparat penegak hukum akibat kasus narkoba, korupsi, kolusi, kenakalan remaja dan pemuda serta kejahatan lain di Indonesia, membuat kita prihatin dan miris, seolah sudah tidak ada lagi kejujuran, kepercayaan dan keterbukaan lagi di negeri ini serta mampu menciptakan Generasi Santri pemimpin masa depan bangsa yang memiliki kepribadian yang luhur sehingga mampu mewujudkan masyarakat Adil Makmur yang diridhoi oleh Allah SWT. (*)

STOP BACA BERITA SAAT ADZAN BERKUMANDANG

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here