wisata petik buah di Karangcengis Purbalingga

0
61 views
V I S I T U T A M A

VISIT.CO.ID-Agrowisata hortikultura Botania Garden (Bogar) di rintisan Desa Wisata Karangcengis, Kecamatan Bukateja, bisa jadi alternatif wisata bagi traveller yang berniat berkunjung ke Kabupaten Purbalingga. 183 hektare kebun buah milik petani terhampar dan wisatawan diajak memetik buah jambu citra, jambu biji kristal, jambu biji merah, jeruk, klengkeng dan belimbing dari pohonnya langsung.

Menyusuri jalan setapak jalur para petani menuju ladang budidaya sembari menikmati udara yang masih sangat segar di pagi hari, menjadi keasyikan tersendiri. Suara kicauan burung menjadikan gema alam semakin semarak, sembari memanjakan lidah menikmati aneka buah di rindangnya kebun.

Untuk mencapai Botania Garden, dari perempatan Ngebrak di wilayah Bukateja, pengunjung mengambil jalan ke arah Timur, atau arah Desa Karangcengis. Jalur itu merupakan jalur tembus yang sudah beraspal halus menuju wilayah Kecamatan Rakit Banjarnegara.

Pegiat wisata Desa Karangcengis sekaligus Ketua Pengelola Bogar, Abdi Legowo mengatakan ide mengembangkan wisata agro petik buah mulai dijalankan dua bulan silam. Hal ini berlatar belakang dari luasnya kebun buah-buahan di Desa Karangcengis dan panen yang melimpah.

“Kami mulai memberdayakan petani untuk diajak bergabung dalam Botania Garden. Petani tidak mengeluarkan biaya tambahan, justru mendapat keuntungan lebih jika menjual ke wisatawan. Keuntungan lebih ini tentu dengan harga jual buah yang hampir sama di pasaran. Jika dijual di tengkulak, tentunya harganya jauh di bawah harga pasaran,” kata Abdi Legowo.

Semula sempat muncul keraguan untuk mengembangkan wisata agro tersebut. Pasalnya buah-buahan tergantung musim. Namun mengingat panen buah jambu biji dan jambu kristal melimpah dan hampir setiap hari, komunitas pengelola Bogar pun dibentuk, uniknya dari komunitas masjid dan komunitas penyumbang darah.

REKOMENDASI:  AKBP Edy Sumardi P SIK : Himbauan Tersebut Hoax

“Pengelola ini yang mengatur kunjungan wisatawan ke kebun yang sudah siap panen,” ungkapnya.

Konsep yang ditawarkan, jika pengunjung akan membawa pulang buah-buahan itu, bisa memetik sendiri dan tinggal ditimbang. Soal harga dipastikan di bawah harga pasaran. Misal untuk jambu biji, harga yang ditawarkan antara Rp 2.500 Rp 3.000 per kilogram, sementara harga di pasaran Rp 7.000,- sampai Rp 10.000 per kilogram. Pengunjung yang menyusur kebun bisa merasakan seakan jadi petani yang memanen hasil kebun, bercaping dan menenteng keranjang kecil untuk memetik buah.

“Harga yang kami jual itu, masih di atas harga petik yang dijual ke tengkulak,” kata Abdi.

Salah seorang petani, Ahmad Riyadi yang bergabung dengan Bogar mengaku tidak dirugikan dengan model kerja sama yang ditawarkan. Bahkan, Ahmad mendapat pendapatan lebih dari harga buah jika dijual ke tengkulak. Ahmad kini mengelola tanaman jeruk sekitar 50 ubin dan 60 ubin tanaman jambu citra. Satu ubin luasan lahan setara dengan 14 meter persegi.

“Tanaman jambu citra mulai bisa dipanen umur 2,5 tahun. Saat saya menanam harga bibitnya Rp 40 ribu per batang, dan kini sudah mulai berbuah. Jika dihitung, sudah kembali modal semua. Kini tinggal menikmati keuntungan. Dalam satu minggu bisa menjual buah jambu sekitar 5 sampai 6 kuintal. Harga per kilogramnya sekitar Rp 12 ribu, jadi mendapat pendapatan sekitar Rp 6 juta sampai Rp 7,2 juta,” ujarnya. (mdk/cob)

STOP BACA BERITA SAAT ADZAN BERKUMANDANG

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here