Keris : Generasi Muda dan Peran Negara?

0
116 views
Inilah cover buku koleksi Keris pribadinya La Nyalla MM terbit 2011.
V I S I T U T A M A

Oleh : KRT Masjhur Assaaf HN

VISIT.CO.ID-Keris sebagai karya seni adiluhung di Indonesia belumlah menempati sebuah nilai yang proporsional dari Rakyat dan Negara kita ini.

Meski Unesco menempatkan keris sebagai karya budaya bangsa dunia milik Indonesia yang non bendawi di sekitar November tahun 2005.

Tapi bagaimana pula keberadaan keris di kalangan masyarakatnya, khususnya generasi muda Indonesia masa kini?

Lha ini bila nyoal ketis dan generasi muda akan tak habis siang dan tak habis malam dalam membahas sekaligus mendesain strategi pengenalan dunia perkerisan kepada mereka ini.

Apalagi keberadaan generasi muda kita ini sudah jauh dari nilai nilai kebudayaan klasik Indonesia.

Untuk sampai pada tahap memahami perkerisan butuh waktu dan pendamping tangguh lantaran kondisin umumnya generasi muda itu sungguh sangat memprihatinkan dan sangat kering wawasannya.

Kini di mana yang ada tempat terbuka itu
bersedia mengedukasinya? Hampir tak ada lingkungan secara edukasi mengenalkannya dunia perkerisan kepada generasi muda maupun khalayak umum kta ini?

Sekadar tahu betul keris saja pun langka. Kalau pun mulai ada yang tahu tentang keris, umumnya disebabkan oleh sikon (situasi dan kondisi) yang bersangkutan itu memperoleh info dari seseorang yang tepatnya, biasanya dari ” dukun plasu “. Dukun ini pun sekadar jual cerita dari cerita lisan (termasuk adopsi dari seni ketoprak).

Ke dua dari kalangan pedagang yang asal menghalalkan segala cara demi tercapai tujuan utamanya, terbeli.

Ketiga tokoh-tokoh yang tidak paham dunia perkerisan tapi memusuhi dan mengharamkan secara irasional, lantaran secara bawah sadar kelompok ini takut pamornya ” tersaingi ” oleh perkerisan.

Itulah ketiga kelompok sosial yang menyebabkan perkerisan dijauhi dan bahkan dibenci tanpa dasar yang masuk akal oleh masyarakat yang mayoritas malas belajar untuk bisa menghargai karya budaya bangsanya sendiri (crisis of nationalisty).

REKOMENDASI:  Model Baru Kotak Suara Pemilu 2019

Termasuk kalangan pejabat sampai kalangan umum itu hanya sandang keris jjka saat punya.gawe perkawinan ala Jawa bagi keluarganya…
Ini pun kerisnya *”kelas kempyeng”*.

Nah, mengapa hal itu terjadi demikian sampai hari ini?

Sebenarnya sederhana bila kita semua jujur, bahwa minat pada perkerisan sudah pada tingkat kering kerontang.

Ke dua, dorongan minat baca dan studi perkerisan belum membudaya kuat betul, meski ada di beberapa pecinta keris mendirikan komunitas pelestari keris dan pusaka Indonesia Klasik.

(Termasuk 3 kelompok itu yang musuhi keris lantaran malas belajar dan asal membenci sehingga budaya ‘pembodohan’ yg disuarkan kepada lingkungan (miliu) sosial meski sadar itu dosa.)

Ketiga, Pemerintah sebagai kepanjangan tangan Negara kita sampai detik ini pun cenderung masa bodoh. Karena secara ekonomis dinilai tidak menguntungkan, padahal kini banyak negara asing yang borong keris lantaran karya seni.yang unik dan mengandung ilmu sesuai perkembangan zaman.
Contoh faktual, kini era digital, dan keris sudah serap nuansa digital itu sekaligus secara empiris dibuktikan dg faktual.

Kalau keris difungsikan sbg sarana bela diri (perang) tidak dilarang meski ada UU Sajam. Tapi jika keris itu kelas pusaka niscaya sang empunya bijak tidak gunakan sbg sajam. Oleh sebab itu, kini terpulang kepada si manusia….seperti halnya uang ini untuk kebaikan atau kejahatan oleh pemiliknya.

Termasuk soal nuklir, ada banyak fungsi tapi kini negara yg punya nuklir ditakuti oleh kawan dan lawannya, itulah efektifitas pamor nuklir dan Indonesia tertinggal dalam pernukliran, sedang perkerisan disisihkan yang berakibat terjebak dalam nuansa marjinalisasi.

Subhan Allah, inilah keris sesuai pesan Ilahi dalam kitabNya, al Quranul Karim surat 57 al Hadid ayat 25. Moga ada guna artikel ini yang diperkaya dari bermacam referensi.

(MA, wartawan NW).

STOP BACA BERITA SAAT ADZAN BERKUMANDANG

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here