” Kadigjayan Keris dan Kekuasaan ” : Era Klasik sampai Modernitas Indonesia.

0
68 views
Koleksi Kerisnya La Nyalla M.Mattalitti yang bisa berdiri itu karena dibuat secara digital dan simetris oleh Sang mPu sehingga titik keseimbangannya terpenuhi.
V I S I T U T A M A

Oleh : krt masjhur assaaf hn.
VISIT.CI.ID,SURABAYA–Sebuah al hadist menyebut, setiap zaman ada pemimpinnya dan setiap pemimpin ada zamannya. Bagaimana eskalasi politik dan pranatanya Pemimpin di era Pilkada Serempak ini?

Begitu juga jika kita buka dan simak kembali antropologi budaya keris Indonesia (ada yang sebut Keris Nusantara).
Dalam perkerisan di negeri.kita ini keris yang kelas pusaka cenderung menunjukkan ” kadigjayannya ” (sakti berjaya) kepada orang yang di saat ia berjaya dalam zamannya berkuasa.

Pohon sajaroh mencatat, di masa munculnya Kerajaan Singosari sekitar tahun 1222 M ini didirikan oleh Ken Arok dengan mempersiapkan pranatanya dulu yang diantaranya pesan Keris Pusaka Terbaik kepada mPu Gandring (Gandrig) di daerahnya Tumapel.

Keris pusaka itu pun menjadi awal Kadigdayannya Ken Arok dengan Kerajaannya Singosari sampai munculnya Majapahit.

Majapahit sendiri awal didirikan menantunya R. Wijaya ini masih menghargai keris pusaka leluhurnya dari Ken Arok, namun sebagai awal emperium Majapahit ditelorkan Keris Pusaka Sangkelat luk 13 ini hasil kreator mPu Supo yang membuat popular dan marwah Majapahit ” gegirisi ” bagi kawan maupun lawan yang sekelas Kerajaan Blambangan harus tunduk kepada Majapahit hingga seluruh Nusantara dan Indochina sampai Madagaskar di masa Patihnya Gajah Mada.

Begitu pula di masa pergeseran kekuasaan dari Majapahit ke Demak Bintoro, keris sebagai penanda zaman perubahan yang bersamaan munculnya nilai-nilai relijio Islam itu juga dilengkapi Keris Pusakanya Sunan Kalijaga yang dibuat oleh adik iparnya sendiri mPu Supo.

Termasuk Girikedaton yang dipimpin Sunan Giri ini punya pusaka Keris Kolomunyeng yang konon masih disimpan khusus dalam pesarean beliau (makamnya) di Giri Gresik Jatim.

Dan kultur kadigjayan ala Keris Pusaka tersebut, di masa Mataram Islam masih berlanjut di masa Kraton Surakarta Hadiningrat (Solo) dan Ngajogjakarta Hadiningrat (Jogja), hasil dualisme Belanda dari balik siasat Perjanjian Gianti sekitar 1755 M.

REKOMENDASI:  Ust. H. Suli Daim, Mpd : " Kuak 3 Jurus Perkuat Bangsa ".

Tetapi sebelumnya, Sultan Agung yang sukses mengharmoniskan Kalender Islam den tatanan umat manusia Jawa dan umumnya Indonesia ini dikemas keharmoniannya lewat sinkronisasi Kalender Jawa dengan Penanggalan Islam sehingga tanggal 1 Suro ini sama dengan 1 Muharam sebagai awal setiap tahun baru Jawa dan Hijriah.

Sultan Agung pun menandai secara Kepusakaan Keris di masanya (1582-1749 M) ini bernama Nagasasra luk 13 dalam emperium Mataram Sultan Agung itu pula keris diapresiasi sangat tinggi dengan ditandai Kinatah Emas dan Kinatah Kamarogan yang lestari sampai sekarang.

Bagaimana keris di masa kini dan di tengah Pesta Demokrasi Pilkada Nasional yang serempak ini?

Tentu tidak bisa disingkirkan begitu saja, apalagi sejak RI Merdeka pun, Bung Karno juga memiliki pusaka khusus dan ke mana pun memegang tongkat Komando yang umumnya di dalam tongkat itu disisipkan Pusaka Cacing Kanil atau Tombak Kecil seperti Pusaka Menur bagi seorang Raja, dan kultur ini tampaknya dibudayakan oleh para Komandan TNI maupun Polri yang bermotivasi pelindung maupun pengaman jati diri sang komandan.

Nah selanjutnya, bagaimana para calon pemimpin yang akan ikut kompetisi pada Pilkada Serempak 2018?

Tampaknya, semua pranata sukses untuk berkuasa sudah disiapkan yang juga pusakanya sebagai tanda awal kadigjayannya.
Tetapi yang baru kita pahami sedikit jago, lantaran yang bersangkutan ini seorang Kolektor Keris, ia ingin melestarikan budaya keris Indonesia yang sudah diakui pihak PBB lewat Unesconya ini.

Koleksi Kerisnya La Nyalla M.Mattalitti yang bisa berdiri itu karena dibuat secara digital dan simetris oleh Sang mPu sehingga titik keseimbangannya terpenuhi.


Dan jago itu bernama Ir. H. La Nyalla Mahmud Mattalitti telah terbitkan buku koleksi kerisnya dalam dua bahasa, Indonesia – Inggris di tahun 2011.

La Nyalla mencintai dan melestarikan Keris Indonesia itu dalam rangka melaksanakan sekaligus mengamalkan perintah Allah Swt secara tidak langsung lewat FirmanNya Surat al Hadid ayat 25, dan dari inspirasi inilah buku koleksinya berjudul *” the Power of Iron “*.

REKOMENDASI:  Bahasa China Jadi Syarat Masuk Kerja di Perusahaan Semen, DPRD Kutim: Ini Penjajahan Gaya Baru!

La Nyalla pun tampaknya mengandalkan Keris Pusaka Parungsari yang keren ini, berluk 13 tangguh Majapahit dengan motivasi dan spirit keilmuan sekaligus kekuasaan tertinggi. Semoga sukses.
MA {wartawan NW}.

STOP BACA BERITA SAAT ADZAN BERKUMANDANG

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here