V I S I T U T A M A

VISIT.CO.ID--Masjid Agung Kopenhagen, masjid dengan daya tampung jamah terbesar di Skandinavia. Nama resminya Hamad Bin Khalifa Civilisation Center, diambil dari nama seorang Emir Qatar yang memimpin pada periode tahun 1995-2013: Hamad bin Khalifa Al-Thani.

Ramadhan tahun 1438H ini adalah Ramadhan kedua bagi saya dan keluarga selama berada di negara yang menjadi pintu penghubung kawasan Skandinavia dan dataran Eropa.

Skandinavia merujuk kepada dua negara, Norwegia dan Swedia yang terletak di Jazirah Skandinavia, ditambah Denmark. Denmark adalah negara Skandinavia yang terkecil, populasinya lebih padat, dan kebanyakan dari lahannya digunakan untuk pertanian. Kopenhagen, ibukota dari Denmark, adalah kota terbesar di Skandinavia.

Ramadhan kali ini lebih berwarna karena selain datang saat peralihan musim dingin dan panas yang identik dengan bermunculan aneka ragam bunga kaya warna.

Sejak pagi, saya sudah berencana mendirikan shalat Jumat di Masjid Agung Kopenhagen. Dengan demikian saya tidak berangkat ke pusat riset yang berjarak 45 menit perjalanan dengan bus jemputan kampus untuk menjalani aktivitas rutin penelitian.

Subhanallah, salah satu nikmat terbesar yang kami rasakan di permulaan tahun 2017 ini adalah menjadi tetangga masjid dengan daya tampung jamah terbesar di Skandinavia.

Masjid ini secara resmi memiliki nama Hamad Bin Khalifa Civilisation Center. Penamaan masjid diambil dari nama seorang Emir Qatar yang memimpin pada periode tahun 1995-2013: Hamad bin Khalifa Al-Thani.

Masjid ini dibangun dengan dana sebesar 27.4 juta dolar Amerika dan Qatar menjadi donatur tunggalnya. Banyak cerita bertajuk perjuangan sarat ujian dari sejak permulaan pengajuan pembangunan masjid hingga hari pertama peresmiannya.

Meski tak sedikit pihak menolak kehadiran masjid, para pengelola masjid tetap mengedepankan spirit perdamaian yang mendasari keberaadan masjid di tengah-tengah komunitas bangsa Viking dalam melayani jamaah Muslim maupun warga lokal non-Muslim yang berkunjung hingga detik ini.

REKOMENDASI:  Lukisan Hendra Berhadiah Rumah Mewah

Masjid Khalifa mampu menampung 677 jamaah. Dijelaskan dalam beberapa berita dan ulasan, interior masjid merupakan ekspresi perkawinan seni lokal Denmark dan dunia Islam dalam seni bangunan.

Dari luar, bangunan tingkat 3 ini terlihat menyatu dengan bangunan sekitar yang kebanyakan adalah showroom penjualan mobil. Mengusung nilai kesederhaaan gaya bangunan, masjid tak akan memberikan kesan wah kepada para pengunjung sejak kali pertama melihatnya.

Namun jika mengetahui secara detil heroiknya perjuangan realisasi pembangunan masjid dan menggunakan mata iman untuk melihatnya, saya jamin pengunjung akan menemukan kesan tak terlupa yang akan lekat lama dalam memori ingatan mereka.

Masjid ini berada di distrik Norrebrø, sebuah kota tetangga Kopenhagen yang paling multikultural dan internasional karena dihuni banyak warga dari berbagai ras dan suku bangsa.

Lokasi masjid ini berjarak sekitar 20 menit perjalanan dari pusat kota stasiun Norreport. Dari apartemen saya, masjid ini sudah dapat dicapai hanya dengan berjalan kaki santai selama 10 menit.

Khutbah Dua Bahasa
Baru-baru ini, lepas menyelesaikan beberapa aktivitas rutin rumah tangga, saya segera bersiap menuju masjid dengan bersepeda. Suasana masjid belum terlalu ramai. Saya masuk ke dalam ruang utama masjid. Beberapa jamaah tampak sibuk membaca al-Qur’an, menunaikan shalat sunnah atau sesekali tampak sedang berdzikir. Suasana di dalam masjid persis seperti suasana Jumatan di masjid-masjid tanah air. Adzan dikumandangkan dengan syahdu tepat pukul 13.30 waktu Denmark.

Khatib memulai khutbahnya dalam bahasa Arab dan Danis beberapa menit kemudian. Komposisi penggunaan bahasanya adalah bahasa Arab penuh digunakan di khutbah pertama dan bahasa Danis di sebagian khutbah kedua sebelum doa.

Jika yang bertugas adalah seorang khatib tamu dan tak pandai bertutur Danis, maka akan hadir satu alih bahasa yang akan memberikan penjelasan isi khutbah dalam bahasa Danis di atas mimbar lain, yang secara permanen disusun bersisian satu sama lain dan dipisahkan oleh mihrab imam di antara keduanya.

REKOMENDASI:  Oleh-Oleh Asix Hadir di Malang

Secara jujur, saya sebagai warga asing yang berbicara dengan bahasa nasional sendiri dan Inggris saja, keadaan ini menjadi kendala utama selama menjalankan ibadah shalat Jumat di hampir seluruh masjid Denmark.

Dan saya percaya hal itu bukan hanya masalah bagi saya pribadi, namun juga dialami oleh semua warga asing non-Danish di Denmark.Untuk mengakali permasalahan bahasa selama shalat Jumat di Denmak, saya sering bertanya kepada teman-teman -biasa disapai brother, artinya saudara- yang saya kenal dekat terkait isi khutbah secara umum setelah pelaksaaan shalat Jumat selesai. Saya pun bertemu brother Osama, warga Denmark keturunan Palestina dan mahasiswa master ilmu politik di Copenhagen University.[hdy/net]

STOP BACA BERITA SAAT ADZAN BERKUMANDANG

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here