Wisata Kesenian Desa Kamasan Klungkung

0
60 views
V I S I T U T A M A

VISIT.CO.ID–Berkunjung ke Desa Kamasan Klungkung bisa menjadi pengalaman yang menarik dalam menghabiskan masa liburan Anda di Bali. Desa Kamasan memiliki pesona keindahan yang sangat unik.

Bukan karena indahnya pemandangan alam yang ada di sana, namun keelokan seni tradisional yang menjadi ciri khas Desa Kamasan.

Berkunjung ke Desa Kemasan, Anda akan disuguhi fenomena keindahan seni yang tercipta dalam lukisan wayang. Kesenian dalam balutan lukisan wayang ini sudah mendarah daging sehingga memiliki corak dan ciri khas yang tidak ditemui di tempat lain.

Tak hanya seni lukis wayang, di Desa Kamasan Klungkung juga berkembang seni tari, seni ukir, seni musik dan juga kerajinan perak dan emas.

Lukisan wayang dari Desa Kamasan ini memiliki detail yang unik dan memiliki pesan dalam setiap gambar yang dilukis. Kebanyakan mengambil cerita dari kisah Ramayana, Kitab Arjuna Wiwaha, Mahabarata atau Kitab Sutasoma. Para seniman di Kamasan sangat piawai dalam pekerjaan seni mereka. Hasil ukiran ataupun lukisan wayangnya tampak begitu sempurna, dengan aplikasi warna yang menarik.

Salah satu aplikasi lukisan wayang Kamasan dapat ditemukan di Taman Gili Kerta Gosa, Klungkung. Yang mana Taman Gili Kerta Gosa tersebut merupakan peninggalan bersejarah dari Kerajaan Klungkung.

Menurut sejarahnya, arti Kamasan bermakna benih yang bagus. Sejak dahulu desa ini sudah terkenal akan pengrajinnya yang dikenal sebagai “pandai mas”. Pada tahun 1380-1651 keahlian para pengrajin di Desa Kamasan ini dimanfaatkan oleh Raja Ida Dalem untuk membuat aneka kerajinan lukisan dan ukiran dari emas dan perak.

Hasil karya seni tersebut bahkan dipergunakan untuk perhiasan di Keraton Suweca Linggaarsa Gelgel. Bahkan seni lukis wayang juga digunakan sebagai hiasan dalam berbagai dekorasi seperti umbul-umbul, kain hiasan (parba dan ider-ider), atau sebagai pelengkap pada dekorasi pura atau bangunan dalam komplek keraton.

REKOMENDASI:  “Tumbal Politik” Dibalik Kisruh Partai Demokrat

Desa Kamasan berdiri di lahan seluas 249 hektar dan terbagi dalam 10 Banjar. Kebanyakan pelukis wayang menetap di Banjar Sangging, sedangkan para pengrajin bertempat di Banjar Pandemas.

Wisatawan yang datang juga bisa menyaksikan proses melukis atau pengrajin yang sedang bekerja. Bahkan para pengrajin ini tidak merasa aktivitas mereka terganggu oleh kedatangan wisatawan. Dengan senang hati mereka melayani dan menjawab pertanyaan jika memang ada hal-hal yang ditanyakan oleh wisatawan. Dengan begini, setidaknya wisatawan dapat mengerti bagaimana proses sebuah karya seni dapat tercipta.

(kintamani)

STOP BACA BERITA SAAT ADZAN BERKUMANDANG

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here