Pemkab Tak Serius Kembangkan Desa Wisata

0
102 views
Desa Wisata Kandri, Semarang/Istimewa.
V I S I T U T A M A

VISIT.CO.ID,UNGARAN – Pemkab Semarang dinilai tidak serius menggarap potensi desa wisata. Terbukti sejumlah desa wisata kondisinya memprihatinkan. Tidak terurus dengan baik. Seperti Desa Bejalen.

Desa yang terletak di Kecamatan Ambarawa tersebut pengelolaannya masih amburadul. Sehingga potensi yang ada di desa tersebut tidak bisa tergali. Bahkan selama ini tidak ada campur tangan Pemkab Semarang dalam pengelolaan desa wisata. “Sejak ditetapkan sebagai desa wisata pada 2006 penanganannya masih tidak jelas karena tidak ada suport dari Pemkab Semarang,” ujar Kades Bejalen Nowo Sugiarto.

Dikatakan Nowo, anggaran pembangunan pun hanya diberikan pada tahun pertama pasca penetapan desa wisata. Anggaran sebesar Rp 1 miliar itupun dari pemerintah pusat yang digunakan untuk pembangunan tambak ikan. “Sementara dari pemkab hanya sebatas pembangunan infrastruktur jalan dan pembangunan gapura saja, tanpa membangun SDM (Sumber Daya Manusia),” katanya.

Dijelaskan Nowo, Desa Bejalen memiliki banyak potensi, seperti wisata air karena berada di tepi Rawa Pening. Namun sayangnya penetapan Desa Bejalen sebagai desa wisata tidak dibarengi dengan pengelolaan yang baik dari Pemkab Semarang. Sehingga desa wisata tersebut tidak bisa berkembang.

Salah satu tujuan pembangunan desa wisata sebagai peningkatan perekonomian masyarakat setempat juga belum bisa terealisasi. Alhasil, warga setempat kembali kepada mata pencaharian awal yaitu sebagai buruh tani dan nelayan musiman. “Setelah dibangun pada 2006, ya sudah. Tidak ada kejelasan bagaimana pengelolaannya,” katanya.

Beberapa hektare tambak ikan yang dulunya dibangun dengan anggaran pemerintah pusat sebagai penarik wisatawan kini juga tidak terurus dengan jelas. “Saat musim hujan ikanya pada kabur entah kemana,” katanya.

Pelatihan Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) pun hanya dilakukan sekali dalam setahun. Dikatakan Nowo, pihak desa pernah menggagas akan memulihkan kembali sektor wisata tambak menggunakan Anggaran Dana Desa (ADD) untuk pembangunan tambak. “Namun sudah ter plot ke hal yang lain yang lebih penting,” ujarnya.

REKOMENDASI:  AJI Kecam Telegram Kapolri Larang Media Liput Arogansi Aparat

Sementara Dana Desa (DD) setempat saat ini digunakan untuk pembangunan infrastruktur desa. Adapun jumlah warga Desa Nowo saat ini sebanyak 1700 an. Hampir 90 persen warga setempat menggantungkan hidupnya dari sektor pertanian dan nelayan musiman. “Dulunya berharap dari sektor desa wisata, namun karena pengelolaannya yang saat ini tidak jelas, otomatis kembali ke pekerjaan awal yaitu buruh tani dan nelayan musiman,” katanya.

Saat ini, di Kabupaten Semarang ada 35 desa wisata. Semuanya memiliki potensi berbeda yang dapat menarik minat wisatawan. Beberapa waktu lalu, Pemkab Semarang juga meresmikan Desa Lerep Kecamatan Ungaran Barat sebagai salahsatu desa wisata.

Kades Lerep, Sumaryadi mengatakan pengelolaan desa wisata wilayahnya lebih memaksimalkan peran BUMDes (Badan Usaha Milik Desa). Selain itu melibatkan masyarakat setempat secara langsung dalam pengelolaanya. “SDM kita sudah siap,” katanya. Pihaknya juga akan memanfaatkan media sosial untuk memberitahukan kepada masyarakat luas tentang keberadaan Desa Wisata Lerep. **

(ewb/zal)
#radarsemarang

STOP BACA BERITA SAAT ADZAN BERKUMANDANG

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here