Empat Penyair Empat Angkatan di Bawah Remang Purnama

0
68 views
V I S I T U T A M A

VISIT.CO.ID-Sastra Bulan Purnama edisi ke-17 di Tembi Rumah Budaya, Bantul, kali ini menampilkan 4 penyair dari generasi atau angkatan yang berbeda. Penyair yang menulis puisi semasa Persada Studi Klub (PSK) asuhan Umbu Landu Paranggi pada dekade 1970-an, kita tandai sebagai penyair generasi 1970-an. Sesudahnya, rentang waktu 10 tahunan kita tandai penyair tahun 1980-an, 1990-an dan penyair tahun 2000-an.

Keempat penyair itu adalah Bambang Darto, yang aktif menulis puisi pada 1970-an, juga aktif di teater. Generasi sesudahnya, yang sesungguhnya datang dari Bandung, tetapi telah menetap di Yogya, Arahmaiani, pada tahun 1980-an sudah menerbitkan antologi puisi. Maka, dia kita tandai sebagai penyair tahun 1980-an. Selain menulis puisi, dia dikenal sebagai perupa.

Dua generasi yang lebih muda, kita tandai tahun 1990-an, yakni Achmad Munjid, dosen Pascasarjana UGM. Pada tahun 1990-an Munjid, demikian nama panggilannya, banyak menulis karya sastra, salah satunya puisi dan di kemudian hari lebih aktif sebagai seorang intelektual bergelar doktor. Yang lebih muda, Retno Iswandari, telah menyelesaikan S2-nya di jurusan Sastra UGM.

Achmad Munjid

Masing-masing penyair diminta mengirimkan 10 puisi yang ditulis tahun 2012. Hal ini untuk menunjukkan, bahwa mereka sampai sekarang masih terus menulis puisi, karena itu mereka adalah penyair dan bukan mantan penyair. Dari 40 puisi karya 4 orang tersebut memang tidak semuanya dibacakan oleh penyairnya. Ada 3 puisi yang dibacakan oleh pembaca atau penyair lainnya, misalnya 2 puisi karya Achmad Munjid dibacakan oleh Herlina dan Umi Kulsum dan 2 puisi karya Arahmaiani dibacakan Boen Mada dan Hari Genthong.

Acara malam itu dibuka dengan dua pembaca puisi yaitu Endah Raharjo dan Krisbudiman yang membacakan karya Rabrindranath Tagore berjudul ‘Borobudur’. Pembacaan puisi ini diiringi tarian oleh Dyah Merta dan Boen Mada.

REKOMENDASI:  Satgas TMMD 101 Nganjuk dan warga Gelar Tradisi Sedekah Bumi Gunung Jalu

Achmad Munjid tampil pertama dengan membaca beberapa puisi karyanya sendiri, salah satunya berjudul ‘Merapi’. Mengenakan baju putih, Munjid membaca dengan sangat bersahaya, seolah ia sengaja tampil dengan teduh.

“Saya ini bukan penyair, tetapi tampil menyamar sebagai penyair,” kata Munjid mengawali sambil bergurau.

Penampil kedua, seorang penyair perempuan, yang kita tandai sebagai generasi 2000-an, membawakan beberapa puisinya. Retno Iswandari, seperti halnya Munjid, tampil dengan kalem, bukan dingin, tidak terlalu ekspresif, tetapi suaranya mantap. Tidak lirih atau pelan, sehingga suasana puisinya terasa ketika dibacakan.

Arahmaiani

Penyair dan perupa, Arahmaiani, yang menyebut dirinya sebagai puisi sunyi. Sunyi yang dia maksudkan bukan tanpa suara. Bunyi lonceng dan suara dia membacakan puisi adalah satu kesunyian yang lain. Karena itu, secara berurutan tanpa jeda, Arahmaiani membacakan beberapa puisinya dalam kesunyian ‘di tengah bunyi lonceng’.

“Musik apa yang akan mengiringi pembacaanmu, Yani?”

“Musik sunyi,” jawabnya.

Musik sunyi itu adalah berasal dari lonceng kecil yang dia pukul pelan sambil membaca puisi. Sekali pukul gema lonceng menyebar ke ruang terbuka, dan suasana sunyi sepertinya sedang dibangun oleh penyairnya.

Bambang Darto, penyair era 1970-an, tampil menyusul. Rambutnya telah memutih. Wajahnya tampak kelihatan tua, tetapi sorot matanya masih kelihatan memiliki semangat dan daya sehingga saat tampil cukup memikat.

Bambang Darto

Mungkin karena sekaligus aktivis teater, Bambang Darto membaca puisi dengan penuh ekspresif. Bahkan ketika Bambang Darto membaca puisi yang berjudul ‘Kisah Seekor Ikan’ dia meminta para hadirin untuk berdiri sambil menyanyikan lagu ‘Padamu Negeri’ karya Kusbini.

Karena, empat baris pertama dari puisi yang dibacakan menyertakan lagu tersebut. Maka, ketika hadirin menyanyikan lagu karya Kusbini itu, Bambang Darto mulai membaca baris-baris puisi dengan lantang dan penuh ekspresif.

REKOMENDASI:  Ramadhan di Denmark, Khutbah Jumat Dua Bahasa

Sastra Bulan Purnama 28 Januari 2013, hujan tidak turun. Dan bulan purnama memberi warna pada puisi karya 4 penyair dari generasi berbeda.

Penulis:Ons Untoro
Foto: Endah Raharjo
Sumber:TembiNET

STOP BACA BERITA SAAT ADZAN BERKUMANDANG

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here