Seminar Nasional Memotret Nasionalisme Baru Indonesia

0
40 views
V I S I T U T A M A

SIARAN PERS
VISIT.CO.ID-Pimpinan Pusat Kolektif (PPK) Kosgoro 1957 membuka dialog bersama dalam seminar dengan keynote speech Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati SE, MSc, Ph.D. Sedangkan pembicara utama dihadirkan Prof. Jeffrey A. Winters, Ph.D dari Northwestern University, USA dan Dr. Dato Sri Tahir pendiri Mayapada Group.

Untuk pembanding Prof. Dr. Nazaruddin Syamsuddin, Chusnul Mar’iyah, Ph. D dan Dr. Ichsanuddin Noorsy. Mereka dari unsur akademisi dan pengamat yg memiliki latar belakang bidang politik dan ekonomi.

Kegiatan yang akan dilaksanakan Rabu 14 Juni siang, dengan tema “Memotret Nasionalisme Baru Indonesia” itu, menurut Ketua Umum PPK Kosgoro 1957 Dr. dr. HR Agung Laksono, Sabtu (10/6) di Jakarta, bertujuan membangun refleksi kritis dan melakukan pandangan obyektif terhadap perkembangan serta arah perjalanan demokrasi dan kebijakan serta nasionalisme ekonomi Indonesia.

Diharapkan dari paparan Sri Mulyani yang pernah menjabat Direktur Pelaksana Bank Dunia, kita memperoleh informasi sejauh mana pengaruh fenomena ekonomi global terhadap perekonomian nasional kita. Demikian pula kebijakan pemerintah kita yang berkesesuaian dengan nilai dasar Pancasila yang kini semakin digelorakan dengan dibentuknya Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP).

Setelah hampir 20 tahun pasca berakhirnya Pemerintahan Orde Baru, kiranya perlu pembaruan pemikiran yang bisa memperkaya bangunan kehidupan politik dan ekonomi lebih baik bagi bangsa dan negara ini.

Lebih dari itu tentu juga ingin mengetahui kemampuan kita dalam mempertahankan tetap tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang saat ini menghadapi berbagai tantangan.

Menurut Agung yang juga Ketua Dewan Pakar DPP Partai Golkar, kita juga tidak menutup mata, telah munculnya pandangan dan pemikiran yang ingin menggeser ideologi bangsa, Pancasila. Dari seminar ini semoga bisa mendapat jawaban, sejauh mana kemampuan kita mempertahankan bangsa dan negara (NKRI) hingga bisa mencapai usia 100 tahun dan seterusnya.

REKOMENDASI:  Selain Buni Yani, Ini Pahlawan 212 Peraih Award Presidium Alumni-212

Kita juga berharap bisa menengarai dan merumuskan perspektif nasionalisme yang responsif, terhadap kecenderungan global, tanpa harus kehilangan jati diri bangsa.

Acara yang akan digelar di Balai Kartini, Jl. Gatot Subroto, Jakarta Pusat, menurut Sekretaris Jenderal PPK Kosgoro 1957 Dr. Sabil Rachman akan dibuka Ketua Umum DPP Partai Golkar Drs. H. Setya Novanto.

Pihak penyelenggara mengundang peserta dari kalangan pemerintah, akademisi, politisi, anggota parlemen, lembaga swadaya masyarakat/NGO dan khususnya para pelaku ekonomi. Kehadiran berbagai profesi tersebut diharapkan bisa memberi kontribusi pemikiran yang lebih terbuka dan kongkret.

Sudah hampir 20 tahun Indonesia menikmati masa kebebasan politik pasca berakhirnya rezim yang sering disebut otoritarian Orde Baru. Kini atas nama kebebasan, kita sedang menghadapi fenomena kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang semakin dinamis. Format sistem Demokrasi Indonesia juga tengah menghadapi gejala pergeseran dari dasar jati diri bangsa yang mengedepankan sifat gotong royong.

Sabil menambahkan, di bidang ekonomi kita merasakan semakin liberal dan belum mampu menjadikan seluruh warga negara dapat menikmati kekayaan yang terkandung dalam bumi dan alam Nusantara.

Adakah praktik berdemokrasi yang salah dan perlukah kita ciptakan nasionalisme baru Indonesia? Tatanan ekonomi nasional apa yang perlu kita sempurnakan agar bisa menahan semakin lebarnya kesenjangan antara masyarakat yang miskin dan kaya.

Dalam pada itu Agung Laksono menambahkan, kita juga harus memikirkan keberlanjutan Pancasila sebagai falsafah bangsa. Untuk itu diharapkan muncul pemikiran kongkret implementsi sistem ekonomi Pancasila yang bisa mempercepat terwujudnya kesejahteraan dan keadilan rakyat.

Seminar yang dipandu Dr. Abdul Aziz SR seorang peneliti CEPP FISIP Universitas Indonesia, dimaksudkan bisa membuahkan rangkuman pendapat dan pemikiran yang bermanfaat. Baik bagi kepentingan rakyat, pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan.

REKOMENDASI:  Alumni 212 Desak Rekomendasi Komnas HAM "Tiket" Sidang Istimewa DPR

(mas/***)

STOP BACA BERITA SAAT ADZAN BERKUMANDANG

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here