Pemerintah Harus Miliki Aturan Pelestarian Aset Wisata

0
84 views
V I S I T U T A M A

VISIT.CO.ID–Beragam aset wisata yang dimiliki Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) sangat rentan dan pelu mendapat perawatan. Karena itu, pemerintah harus membuat aturan yang jelas untuk menjaga kelestarian area-area unggulan wisata ini.

Demikian diungkapkan Dr Ir Laretna T Adishakti MArch, dosen Jurusan Teknik Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) dalam diskusi di Pusat Studi Pariwisata UGM, Kamis (19/1/2017). Diskusi rutin ini mengangkat tema ‘Menguatkan Pariwisata Saujana Pusaka Yogyakarta.’

“Pemerintah perlu membuat panduan kalau intervensi destinasi itu gimana, intervensi desain, siapa yang boleh datang. Harus menunjukkan keberpihakan dalam pariwisata, kita mau menjadikan Yogyakarta itu untuk lahan pariwisata yang seperti apa,” kata Laretna T Adishakti.

Sita, panggilan akrab Laretna, mengatakan pentingnya perhatian dari berbagai pihak terhadap upaya pengelolaan unggulan pariwisata di Yogyakarta. Banyak aset wisata yang dimiliki Pemerintah Daerah DIY, di antaranya, bentang persawahan di Kabupaten Kulonprogo hingga kekayaan ekologi di Gunungkidul. Namun, aset tersebut belum dikelola secara tepat.

“Kita itu sebenarnya ngeri, kayaknya semua orang diterima datang ke Yogyakarta. Padahal Yogyakarta harus bisa menentukan siapa yang layak datang ke Yogyakarta, dan orang yang datang ke Yogyakarta harus bisa diatur oleh Yogyakarta, karena aset wisata itu rentan dan harus dirawat,” katanya.

Dalam diskusi ini, Sita menyebutkan sembilan unggulan pariwisata di DIY, yaitu nilai mahakarya ekologi, nilai mahakarya kepurbakalaan, nilai filosofi, nilai keragaman budaya, nilai ke-Indonesia-an, nilai pendidikan, nilai mahakarya seni dan budaya tradisi dan kontemporer, nilai kerakyatan, serta nilai sistem budaya pertanian. “Unggulan-unggulan inilah yang menjadi pusaka milik Yogyakarta yang harus bersama-sama dikelola dan dilestarikan,” tandasnya.

Dijelaskan Sita, pemahaman pelestarian pusaka tidak hanya dalam bentuk pengawetan pusaka saja. Tetapi juga merupakan pengelolaan perubahan, suatu perubahan yang dilakukan secara selektif.

REKOMENDASI:  Komnas Perlindungan Anak:Pola Pengasuhan Anak Berbasis Keluarga

Ia mencontohkan Kota Kawagoe di Jepang sukses dibangun atas inisiatif komunitas. Selain itu, juga peremajaan berbagai situs budaya di Kota Ahmedabad , India melalui inisiatif dari sektor privat. Fenomena yang terjadi di kedua negara ini berkat kreativitas dan inovasi yang muncul dari kalangan warga lokal menjadi motor yang menggerakkan pengembangan pariwisata daerah.

Sita merasa optimis, Yogyakarta dapat berkembang sama seperti kedua kota tersebut. “Orang Yogya itu inovator, kreator, tapi juga pelestari, dan bukan follower. Kalau di antara kita saling ajar-mengajar, ini bisa jadi sebuah gerakan dari Yogya sehingga destinasi yang kita punya di Yogya, ya itulah Yogya, bukan mengikuti yang lain-lain,” ujarnya.

[jogpaper]

STOP BACA BERITA SAAT ADZAN BERKUMANDANG

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here