JAKARTA, VISIT.CO ID – Pohon pulai atau pule menjadi salah satu jenis pohon yang ditanam sebagai pengganti pohon-pohon yang ditebang untuk revitalisasi sisi selatan Monas.

Pohon pule itu ditanam di sisi kiri dan kanan area revitalisasi.

Kepala Dinas Cipta Karya, Tata Ruang, dan Pertanahan DKI Jakarta Heru Hermawanto mengatakan, harga pohon pule lebih mahal dibandingkan beberapa jenis pohon lainnya.

“Pule itu harganya berapa? Coba segede itu (yang ditanam di area revitalisasi Monas), harganya itu lebih mahal daripada pohon-pohon lain,” ujar Heru di Balai Kota DKI Jakarta, Kamis (6/2/2020).

Saat ditanya apakah harganya lebih mahal dibandingkan pohon mahoni dan trembesi yang ditebang, Heru menjawab harga pohon pule lebih mahal.

Dia kemudian mencari harga pohon pule di mesin pencari Google dan menunjukkan kepada wartawan. Harga yang tercantum di mesin pencari Google sekitar Rp 8,5 juta per pohon.

“Jauhan pohon pule (harganya dibandingkan mahoni, trembesi). Harga pohon pule mahal sekali. Ini (harga Rp 8,5 juta) masih kecil (ukuran pohonnya), segede itu (yang ditanam di Monas) enggak dapat segitu (harganya),” kata Heru sambil menunjukkan harga pohon pule di Google.

Heru berujar, pohon pule ditanam di sisi kanan dan kiri area revitalisasi berdasarkan rancangan desain revitalisasi Monas pemenang sayembara.

Berdasarkan desain, ada 16 pohon pule yang ditanam di area revitalisasi, yakni di delapan pohon di sisi kiri dan delapan pohon di sisi kanan. Ke-16 pohon itu sudah ditanam di area revitalisasi.

Namun, Komisi Pengarah Pembangunan Kawasan Medan Merdeka meminta jumlah pohon yang ditanam di area revitalisasi ditambah.

Pemprov DKI mematuhinya dan akan menambah lebih banyak pohon di sana. Pohon di area revitalisasi akan ditambah setelah proyek pemugaran selesai.

REKOMENDASI:  Pohon Gambir, Tanaman Liar Bernilai Ekonomi

Pohon yang akan ditanam sebagai tambahan adalah pule dan pohon damar.

“Komisi Pengarah minta itu diperbanyak, tapi yang di dalam pekerjaan (revitalisasi) ini masih 16 pohon. Nanti akan kami tambahkan setelah pengerjaan karena itu di luar pengerjaan ini,” ucap Heru.

Menurut Heru, pohon pule dipilih karena termasuk jenis pohon yang tumbuh dengan cepat dibandingkan sejumlah jenis pohon lainnya.

“Pohon yang paling cepat nanti tumbuh ya pule salah satunya. Itu pilihan dari perencana. Perencana menentukan bagus, salah satu pohon hiasnya kan pule,” tuturnya.

Revitalisasi sisi selatan kawasan Monas menuai kritik karena adanya penebangan sejumlah pohon demi proyek tersebut.

Tagar #MisteriPohonMahoni bahkan sempat menjadi trending topic di Twitter. Warganet mengkritik pohon mahoni di Monas ditebang dan penggantinya malah pohon pule.

Revitalisasi itu juga menjadi polemik karena dikerjakan tanpa mengantongi izin Komisi Pengarah Pembangunan Kawasan Medan Merdeka.

Padahal, pembangunan di kawasan Monas harus mendapatkan izin Komisi Pengarah. Hal ini sesuai dengan ketentuan Keputusan Presiden Nomor 25 Tahun 1995 tentang Pembangunan Kawasan Medan Merdeka di Wilayah DKI Jakarta.

Pemprov DKI Jakarta akhirnya menghentikan sementara proyek revitalisasi dan mengajukan surat permohonan izin kepada Komisi Pengarah. Komisi Pengarah menggelar rapat untuk membahas proyek itu pada Selasa (5/2/2020).

Hasilnya, Komisi Pengarah meminta Pemprov DKI menyiapkan rencana revitalisasi dalam bentuk gambar yang sesuai dengan Keputusan Presiden Nomor 25 Tahun 1995 tentang Pembangunan Kawasan Medan Merdeka di Wilayah DKI Jakarta.

Pemprov DKI telah menyerahkan gambar tersebut, kemarin.

Revitalisasi Monas akan dilanjutkan setelah Komisi Pengarah menyetujui rencana proyek tersebut. (kmp)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here