Oleh: La Mema Parandy,ST.,MM.
Visit.co.id:

Siapapun orangnya, jika hendak menekuni dunia bisnis, maka setidaknya harus memiliki tiga hal berikut:

1.Modal itu bisa uang sendiri, uang mertua, uang teman, atau urunan uang, namanya investasi. Atau bisa borongan dalam hal kerjasama mencari peluang uang. Kalau dalam istilah saya. Itu semua bisa jadi uang, kalau ada komitmen kejujuran dan kepercayaan. Kalau kita semua punya nilai-nilai ini dan kita terus menjadi jaga diri dalam kebaikan. Uang itu datang sendiri bahkan bersamaan. Yang atur itu bukan kita. Itu urusan dan hak Allah SWT. Semua sudah ada takaranya.

2. Semangat, dalam banyak kasus, banyak bisnis dan usaha badu (star up) tumbang karena salah fatal dalam menterjemahkan *semangat*. Jiwa kita yang muda itu penuh kobaran semangat. Hanya Perlu kontiunitas dan jaga frekuensinya. Berjalan naik turun dan landai yang standar. Ini berlaku bagi siapa saja. Untuk pembanding, kita rajin termotivasi dan terus belajar dari tokoh-tokoh pengusaha yang terbukti survive dan berhasil sampai 2 dan 3 generasi. Pakai konsep ATM (Amati, Tiru, Modifikasi). Kemudian fokuskan dan pusatkan semangatnya. Bisnis itu bukan coba coba, tetapi cobaan bagi mentalitas dan kejiwaan setiap insan pengusaha pejuang pejuang pengusaha.

3. Loyalitas. Bagaimana kita sebagai pengusaha menjaga loyalitas bagi bisnis kita sendiri, bagi rekan bisnis kita, bagi unsur kepentingan dalam bisnis. Itu harus di jaga. karena semua saling terkait dan memiliki tujuan berbisnis.

Tetapi, dalam pengalaman saya, loyalitas yang paling utama dan wajib terus kita jaga pada diri setiap pengusaha adalah Loyalitas Kepada Allah SWT., kepada dia sang maha kaya pemilik alam semesta.

semua, itulah modal yang sesunguhnya. Itu semua tidak terjadi tiba-tiba. Saya 10 tahun naik turun maju mundur. Kita belajar dan memahami serta menjiwai dunia bisnis yang kita tekuni dan menjadi profesi yang mulia.

REKOMENDASI:  Mantan Menteri M Nuh Terpilih Jadi Ketua Badan Wakaf Indonesia

Kedepan, harapan saya bagi kita semua kader HIPMI, dalam melakukan tindakan dan sentuhan ciri khas HIPMI nya itu. Inilah “HIPMI EFEK”bagi era milenial.

Ada pengusaha *By Nasab*, sejak awal keluarga dan orang tua sebagai saudagar. Ada pengusaha *By Nasib* berjuang dan berani keluar dari tirani zona nyaman. Mengagas ide dan konsep bisnis tanpa pengalaman. Siap menerjang dan cenderung nekad. Mereka sukses dan menjadi pioner di masing-masing bisnisnya.

Dan terakhir pengusaha “By Desain” nah,…inilah mereka para generasi milenial era tahun 2000. Yang harus kita wadahi, kita akomodir, kita kolaborasikan dari tua dan yang muda kolaborasi dan berkarya. Mereka memiliki kepekaan dan kecepataan dalam merespon perkembangan era digital, eranya dimana mereka mampu sebagai pencipta Product and services Disruption.

Yang terkahir, Negara harus berkomitmen dan hadir. Itu penting. Dari tingkatan Pemerintahan Pusat, Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kabupaten/Kota. Kita harus bersama-sama. Saat ini rasio Pengusaha dalam angka 1,6% dengan jumlah penduduk kurang lebih 257 juta jiwa. Ini masih stagnan.Indonesia harus bisa mencapai angka 5 % Pengusaha. Mari kita mulai Era Kolaborasi ini dengan sebaik-baiknya.

Waallahualambisahwab.

Pengusaha Pejuang
Pejuang Pengusaha

La Mema Parandy,ST.,MM.
-Anggota Himpunan Pengusaha Muda Indonesia ( HIPMI )
-Anggota Kamar Dagang dan Industri Indonesia ( KADIN )

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here