JAKARTA (visit.co.id)- Aksi meninggalkan (walk out) ruangan yang dilakukan seorang pianis sekaligus alumni Kolese Kanisius Ananda Sukarlan saat Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dinilai banyak kalangan sebagai sikap permusuhan terhadap pribadi Anies Baswedan yang pada Pilkada DKI Jakarta 2017 lalu sempat berkompetisi dengan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).

Demikian diungkapkan, senator Jakarta Fahira Idris dalam keterangannya, Jakarta 15 November 2017 Kemarin.

Diketahui, Gubernur Anies hadir dalam acara itu sebagai undangan resmi memberi sambutan pada malam penghargaan dalam rangka memperingati ulang tahun ke-90 Kolese Kanisius di Hall D JIExpo Kemayoran, Jakarta Utara (11/11).

“Walau saya menyakini aksi WO ini untuk memperlihatkan ketidaksukaan dan cara mereka mengekspresikan rasa permusuhan terhadap Pak Anies, tapi saya berharap warga Jakarta tetap tenang. Kita yang sudah dewasa dalam berpolitik ngalah saja. Kalau mereka menganggap tidak ada nilai-nilai kebaikan dalam diri Pak Anies, setidaknya kita melihat gubernur kita ini punya komitmen mengembalikan nilai-nilai warga Bukit Duri dan Kampung Akuarium yang sudah dicabut oleh Ahok yang mereka anggap mempunyai kepribadian yang dipenuhi nilai-nilai kebaikan,” ujar wanita yang akrab disapa Uni Fahira itu.

Fahira mengungkapkan, tuduhan yang dilontarkan Ananda Sukarlan bahwa Anies Baswedan mendapat jabatannya dengan cara yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Kanisius sebenarnya tuduhan serius dan termasuk pembunuhan karakter. Bahkan aksi WO menurut Ananda Sukarlan juga didasarkan dan mengatasnamakan nilai kemanusiaan.

“Nilai kemanusian siapa yang dilanggar Pak Anies. Dia tidak pernah menggusur rumah dan tanah warga miskin yang sedang bersengketa di pengadilan. Dia tidak pernah teriak-teriak punya niat bakar demonstran hidup-hidup apalagi punya versi HAM sendiri bahwa bila dua ribu orang menentang dia dan membahayakan 10 juta orang, maka dua ribu orang itu boleh dibunuh,” tukas Fahira.

REKOMENDASI:  membebaskan diri dari kolonialisme

Walau merasa terganggu dengan peristiwa ini, namun Fahira memuji sikap Anies yang menanggapi insiden ini dengan elegen, santai, tanpa sedikitpun ada rasa marah atau kecewa.

“Jujur saya terganggu dengan peristiwa ini. Tapi melihat respon Pak Anies yang biasa saja bahkan menghargai perbedaan pendapat membuat kita membuka mata, mana pemimpin karbitan dan mana pemimpin sejati,” tukas Ketua Umum Ormas Kebangkitan Jawara dan Pengacara (Bang Japar) ini.

(bil/voi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here