Korupsi dana hibah Pemkot Surabaya Rp 370 juta

0
303

VISIT.CO.ID– Jaksa Penyidik Pidsus Kejaksaan Negeri Surabaya, melakukan penahanan terhadap dua orang, karena diduga korupsi dana hibah Pemerintah Kota Surabaya, anggaran tahun 2014.

Keduanya itu adalah Bagus Prasetyo Wibowo (25) dan Vicky Akbar NT (26). Penahanan terhadap mereka, penyidik menilai keduanya diduga ikut terlibat mark up anggaran untuk pembelian mesin digital printing senilai Rp 370 juta.

Kepala Kejaksaan Negeri Surabaya Didik Farkhan, menjelaskan kedua tersangka ditahan Kamis (20/7) siang kemarin. Karena sudah cukup bukti melakukan penahanan diduga ikut terlibat korupsi dana hibah Pemerintah Kota Surabaya.

Kerugian negaranya berdasar dari audit BPKP sebesar Rp 370 juta. Penyidik langsung melakukan penahanan dan dijebloskan ke Rumah Tahanan Klas I Surabaya, di Kelurahan Medaeng, Kecamatan Waru, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur.

“Penahanan dilakukan selama 20 hari kedepan. Sekarang tinggal mengirim berkas perkaranya ke Pengadilan Negeri Surabaya, agar secepatnya disidangkan,” terang Didik Farhkan, Jumat (21/7).

Penyidik yang menangani, menjerat keduanya dengan pasal 2 dan pasal 3 UU Nomor 31 tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU nomor 20 Tahun 2001 jo pasal 55 KUHP.

Kasus tersebut berawal dari tersangka Bagus Prasetyo mengajukan proposal dana hibah Pemkot Surabaya tahun 2013.

Dengan menggunakan atas nama kelompok Usaha Cahaya Abadi sebesar Rp 443,63 juta untuk pembelian mesin digital printing Rp 324 juta, mesin foto copy 42 juta dan dua unit komputer Imac Rp 36 juta.

Dalam kelompok usaha tersebut, Bagus mencatut 7 nama anggota kelompok, tanpa sepengetahuan pemilik nama yang sebenarnya (fiktif).

Kemudian proposal itu diverikasi dan disetujui oleh Pemkot Surabaya sebesar Rp 370 juta. Baru di tahun 2014 dana hibah cair dan masuk rekening kelompok usaha Cahaya Abadi.

REKOMENDASI:  Cuaca Ekstrem, Banjir Hingga Longsor Terjang Yogyakarta

Dari rekening Cahaya Abadi itu Bagus melakukan pencairan sendiri, dan menyerahkan uang itu kepada Vicky Akbar untuk dibelanjakan barang sesuai proposal.

Namun ternyata Vicky membelikan mesin digital printing tidak sesuai tipe yang ada di proposal. Dibelikan mesin dengan spek lebih rendah sehingga ada selisih harga sebesar Rp 128, 8 juta.

Sisa harga sebesar Rp 128,8 juta itu yang kemudian dinikmati kedua tersangka. Mesin digital printing yang dibeli dengan spec yang lebih rendah itu ternyata rusak tidak dapat digunakan.

(mdk/rhm)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here