Penyerang Novel Belum Terungkap

0
412

VISIT.CO.ID–KONDISI mata penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan yang saat ini dirawat sudah hampir dua bulan di Singapura belum juga membaik. Juru Bicara KPK Febri Diansyah mengatakan, penglihatan Novel masih kabur.

“Hasil tes penglihatan masih sama kaburnya seperti kemarin. Mata kiri Novel dapat melihat satu jari dan lima jari tangan dari jarak satu meter,” ujar Febri dalam keterangan tertulis yang diterima Media Indonesia di Jakarta.

Informasi tersebut, menurut Febri, diperoleh dari tim yang mendampingi Novel dalam perawatan di Singapura. Dilaporkan, sekitar pukul 20.00 waktu setempat, kontak lens mata sebelah kiri Novel juga sempat lepas dua kali.

“Menurut dokter hal itu karena tekanan lapisan luar dan pada pukul 03.00 dinihari tadi, kontak lens mata kanan juga copot. Namun sudah dilakukan pemasangan kembali,” ujar dia.

Di dalam laporan tersebut, Febri mengatakan, tekanan mata kiri dan kanan sudah normal. Kondisi kornea Novel pun baik dan sehat. “Namun, kondisi membran di mata kiri juga terus bergerak sehingga mengakibatkan lapisan luar seperti mau lepas dan menyebabkan gatal,” ujarnya.

Hari ini menjadi hari ke-54 pasca Novel diserang orang tak dikenal. Dia diserang saat pulang salat subuh di masjid di dekat rumahnya. Pihak kepolisian sempat beberapa kali mengamankan beberapa orang yang dicurigai sebagai pelaku penyerangan. Namun, mereka kemudian dilepas karena kekurangan bukti.

Sebelumnya, sejumlah lembaga swadaya masyarakat yang tergabung dalam Koalisi Masyarakat Peduli KPK mengungkapkan sejumlah kejanggalan justru muncul dalam pengusutannya. Pertama, tidak ditemukannya sidik jari di gagang cangkir berisi air keras yang dipakai pelaku penyerangan.

Kedua, tidak dipublikasikannya rekaman kamera pengawas. Ketiga, menangkap lalu melepas terduga pelaku. Keempat, inkonsistensi pernyataan yang dikeluarkan Mabes Polri dan Polda Metro Jaya terkait kasus Novel.

REKOMENDASI:  'Keringat Dingin' Koalisi Penguasa Mengucur”

Koalisi terdiri dari Indonesia Corruption Watch (ICW), Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras), Lembaga Bantuan Hukum Jakarta, Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia, serta Pusat Studi Hukum dan Kebijakan (PSHK).

Koordinator KontraS Yati Andriyani mengatakan, lambannya pengusutan kasus Novel dan munculnya kejanggalan-kejanggalan tersebut patut dipertanyakan. “Jangankan mengungkap dalangnya, pelaku lapangan saja belum tersentuh,” ujarnya.

(OL-3)

#mediaindonesia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here